"Hidup ini adalah pilihan.. Pilihlah yang terbaik untuk agamamu.. Allah sayang padamu!"

Celaka or Celike?

Salam and good day!

Imam Abu Daud rahimahullah meriwayatkan dari hadits Abu Darda radhiallahu ‘anhu bahwasannya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda : “Apabila seorang hamba melaknat sesuatu maka laknat tersebut naik ke langit, lalu tertutuplah pintu-pintu langit. Kemudian laknat itu turun ke bumi, lalu tertutuplah pintu-pintu bumi. Lalu ia mengambil ke kanan dan ke kiri. Apabila ia tidak mendapatkan kelapangan, maka ia kembali kepada orang yang dilaknat jika memang berhak mendapatkan laknat dan jika tidak ia kembali kepada orang yang mengucapkannya.”


AlhamduliLlah hari ni berpeluang mendengar kuliah Ayah Chik di Rusila. Dah lama tak berpeluang pergi, kalau pergi pun kadang-kadang sebab ada program. Kalau tak ada je komitmen lain perlu diutamakan dulu. Awal pagi ni saya dan beberapa sahabat lain membantu Unit Amal Marang menjayakan Jamuan Sambil Menderma. Berapa derma yang mereka peroleh tu tak tanyelah pulak. Tapi memang laku sangat ‘jualan’ pagi ni. Makan nasi minyak lauk gulai daging. Ada acar dan belacan. Nasib baik ada jugak rezeki saya merasa nasi minyak…hehe.


Sebelum sempat kuliah Ayah Chik start, nasi minyak dah habis licin! Nasib lah sape yang mari lambat. Saya berpeluang mendengar kuliah Ayah Chik dengan baik kali ni. Keje tak lah berat sangat, takde lah letih sampai tak mampu beri tumpuan. Antara topic yang paling mendapat perhatian saya berkenaan hukum mencela ni. Mencela seorang mukmin dan makhlukNya termasuk dosa besar. Siapakah kita untuk mencela orang lain? Jangan sesekali mengatakan seseorang tu ahli neraka kerana bukanlah kita yang berhak menghukum. Hanya orang yang disebut oleh Rasulullah s.a.w sahaja yang jelas mengatakan Firaun, Abu Lahab, Abu Jahal adalah ahli neraka. Jangan kita mudah menghukum atau mencela sesuka hati kerana ianya sangat dibenci Allah. Saya sempat search berkenaan hukum mencela ni..


Tsabit bin Adl Dlahhak radhiallahu ‘anhu berkata :
“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda : ‘Siapa yang melaknat seorang Mukmin maka ia seperti membunuhnya.’ ” (HR. Bukhari dalam Shahihnya 10/464)


Sangat tidak pantas bila ada seseorang yang mengaku dirinya Mukmin namun lisannya terlalu mudah untuk melaknat. Sebenarnya perangai jelek ini bukanlah milik seorang Mukmin, sebagaimana Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :

“Bukanlah seorang Mukmin itu seorang yang suka mencela, tidak pula seorang yang suka melaknat, bukan seorang yang keji dan kotor ucapannya.” (HR. Bukhari dalam Kitabnya Al Adabul Mufrad halaman 116 dari hadits Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu. Hadits ini disebutkan oleh Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’i hafidhahullah dalam Kitabnya Ash Shahih Al Musnad 2/24)


Dan melaknat itu bukan pula sifatnya orang-orang yang jujur dalam keimanannya (shiddiq), karena Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda : “Tidak pantas bagi seorang shiddiq untuk menjadi seorang yang suka melaknat.” (HR. Muslim no. 2597)


Pada hari kiamat nanti, orang yang suka melaknat tidak akan dimasukkan dalam barisan para saksi yang mempersaksikan bahwa Rasul mereka telah menyampaikan risalah dan juga ia tidak dapat memberi syafaat di sisi Allah guna memintakan ampunan bagi seorang hamba. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda : “Orang yang suka melaknat itu bukanlah orang yang dapat memberi syafaat dan tidak pula menjadi saksi pada hari kiamat.” (HR. Muslim dalam Shahihnya no. 2598 dari Abi Darda radhiallahu ‘anhu)


Perangai yang buruk ini sangat besar bahayanya bagi pelakunya sendiri. Bila ia melaknat seseorang, sementara orang yang dilaknat itu tidak pantas untuk dilaknat maka laknat itu kembali kepadanya sebagai orang yang mengucapkan.


Ada beberapa hal yang dikecualikan dalam larangan melaknat ini yakni kita boleh melaknat para pelaku maksiat dari kalangan Muslimin namun tidak secara ta’yin (menunjuk langsung dengan menyebut nama atau pelakunya). Tetapi laknat itu ditujukan secara umum, misal kita katakan : “Semoga Allah melaknat para pembegal jalanan itu… .”


Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam sendiri telah melaknat wanita yang menyambung rambut dan wanita yang minta disambungkan rambutnya.


Beliau juga melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki dan masih banyak lagi. Berikut ini kami sebutkan beberapa haditsnya : “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam melaknat wanita yang menyambung rambutnya (dengan rambut palsu/konde) dan wanita yang minta disambungkan rambutnya.” (HR. Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya)


Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam mengabarkan :
“Allah melaknat wanita yang membuat tato, wanita yang minta dibuatkan tato, wanita yang mencabut alisnya, wanita yang minta dicabutkan alisnya, dan melaknat wanita yang mengikir giginya untuk tujuan memperindahnya, wanita yang merubah ciptaan Allah Azza wa Jalla.” (HR. Bukhari dan Muslim dari shahabat Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu)


“Allah melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki.” (HR. Bukhari dalam Shahihnya)


Dibolehkan juga melaknat orang kafir yang sudah meninggal dengan menyebut namanya untuk menerangkan keadaannya kepada manusia dan untuk maslahat syar’iyah. Adapun jika tidak ada maslahat syar’iyah maka tidak boleh karena Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda : “Janganlah kalian mencaci orang-orang yang telah meninggal karena mereka telah sampai/menemui (balasan dari) apa yang dulunya mereka perbuat.” (HR. Bukhari dalam Shahihnya dari hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha)


Setelah kita mengetahui buruknya perangai ini dan ancaman serta bahayanya yang bakal diterima oleh pengucapnya, maka hendaklah kita bertakwa kepada Allah Ta’ala. Janganlah kita membiasakan lisan kita untuk melaknat karena kebencian dan ketidaksenangan pada seseorang. Kita bertakwa kepada Allah Ta’ala dengan menjaga dan membersihkan lisan kita dari ucapan yang tidak pantas dan kita basahi selalu dengan kalimat thayyibah. Wallahu a’lam bis shawwab.



Sumber: http://salafy.or.id Penulis : Ummu Ishaq Al Atsariyah
Judul: Menjaga Lisan dari Mengutuk/Melaknat


p/s: teringat masa muktamar baru-baru ni, Ayah Chik marah sesetengah perwakilan yang buat statement ‘Rosmah suami kepada Najib’. Iya, frasa tu jelas untuk mengutuk dan menerangkan queen control Rosmah. Namun bagi Ayah Chik, tiada gunanya perkataan begitu. Sia-sia sahaja. Apa yang kita tentang adalah kejahatan dan kemungkaran yang mereka lakukan. Namun jangan sesekali menjatuhkan maruah musuh yang menjadikan mad’u yang ingin mengenali Islam semakin jauh dari Islam kerana tindakan kurang cerdik dan emosi kita. SubhanaLlah, indahnya Islam jika kita semua hayati sebaik-baiknya. Betapa adab yang diajar kepada kita menjadikan kita sentiasa dipandang mulia dengan Islam kita. SubhanaLlah.
Celaka maksudnya sial lah, celike pulak loghat ganu. Biasa orang kelaut guna perkataan celike ni untuk merujuk malas. Betul kot sebab tanye ayah..hehe.




0 comments:

Post a Comment

Apa komen anda...?