"Hidup ini adalah pilihan.. Pilihlah yang terbaik untuk agamamu.. Allah sayang padamu!"

Ucapan SALAM

Salam and good day!









Manusia memang sukakan ringkasan. Serba serbi nak diringkaskan. Orang kate zaman moderen ni, teknologi canggih membuatkan hubungan komunikasi semakin mudah dan cepat. Orang semakin berlumba-lumba memperkenalkan teknologi terkini yang lebih pantas.. Semakin pantas teknologi dicipta, maka mereka lebih dikenali dan dipuja kerana mampu mencipta sesuatu yang hebat..







Baru-baru ni ada seorang saudara menegur saya penggunaan SALAM. Tak tahulah topik ni dah lapuk atau pun dah basi.. Bagi saya, selagi mana ilmu itu untuk memperbaiki keyakinan dan kefahaman kita kepada Islam, maka tiada istilah 'basi'.. Bila orang bertanya sesuatu soalan pada kita, memang kita akan cuba sungguh-sungguh untuk menjawab dan mencari jawapannya.. Bagi saya, soalan yang ditanya umpama penghargaan mereka kepada saya kerana mereka mempercayai dan mengharapkan jawapan dari saya. Cuma kadang kala ada soalan yang mengejek atau 'ada udang sebalik batu' tu saya tolak tepi-tepi.. kita berprasangka baik pada orang lain.. Tak rugi bersangka baik, jiwa kita pun tak merana..hehe.







Selepas ditanya oleh saudara tu, saya pun 'sibuk' mencari jawapan dan bertanya sahabat lain..walaupun dah tahu jawapannya.. bukan apa, supaya ilmu yang kita dapat lebih mantoop..





Cari punya cari, dapat jugak jawapan yang saya mahu.. boleh rujuk website INI. Boleh tekan link tu untuk baca jawapannya..







Sebenarnya zaman dulu-dulu masa handset mula diperkenalkan memang dah menjadi trend atau mungkin penyakit muda-mudi untuk menggunakan singkatan semasa menaip sms. Ye lah, takkan nak tulis sebijik-sebijik huruf kan...? Perkara menarik pernah dibincangkan dulu pasal memberi salam dalam sms. banyak betul perkataan-perkataan yang digunakan; semekom, askum, a'kum..dll. Bila ditulis sebegitu, kita biasa akan membaca seperti yang ditulis kan..? Perkara yang baik, tapi malangnya apabila tidak berlandaskan syariat maka lain pulak jadinya.







Sebab tu lah sampai sekarang saya gunakan SALAM setiap sms yang dihantar. Atau nak guna As-Salam pun boleh.. Memberi salam tu kan sunat.. Lagipun kalau orang sms saya tak bagi salam dulu pun saya tak suka. Bagi saya takde adab. Tu pandangan peribadi saya.. Takde lah nak gaduh2.. Nak taip ASSALAMUALAIKUM panjang sangat deh.. Bukan sayang duit.. Nak cepat kot.. Lagipun kadang2 ada masanya ketika menaip sms dalam keadaan kelam kabut ada je banyak salah ejaan. Nasib lah.. Baru2 ni saya dapat rezeki lebih nak beli handset baru. Teruja jugaklah sebab dapat beli handset yang canggih (walaupun saya bukannya guna semua tu..), saja nak merasa katakan.. dah lah baru nak sesuaikan diri dengan handset baru, sibuk pulak urusan duniawi.. Nak sms pun cepat2 gitu. Ada ketika tersalah taip; amal (jadi amalgamated), kami (jadi kameez), nasi (jadi nasal)...macam2 lagilah. Sampai orang yang sy sms tu call saya balik sebab tak faham sms saya.. Maklumlah taip je, tak check balik..huhu. Tension sebab macam kelam kabut skit nak taip sms masa tu.. Bayangkan nak taip SALAM pun jadi SLAM. Sabo je lah.. Sekarang ni dah expert dah, AlhamduliLlah.







Saya sebenarnya tak pasti dari mana datangnya yang mengatakan SALAM tu maksudnya selamat tinggal. Contohnya ISLAM bererti berserah diri kepada Allah. SALAM bererti sejahtera. ASSALAMUALAIKUM bererti sejahtera ke atas kamu. Dalam dunia serba canggih dan dunia di hujung jari ni pelbagai jenis maklumat yang kita dapat. Bagus lah sebab banyak sumber yang kita peroleh. Namun tak bagusnya, ada banyak jugak yang 'menjejaskan' atau 'mengelirukan' kita. Sebab itu, BERTANYA lah kepada yang pakar. Jangan percaya bulat-bulat sesuatu berita atau ilmu yang kita dapat kecuali kita yakin sumbernya dan diakui kesahihannya.





Oklah, semoga sejahtera semua. Moga kita tergolong di dalam orang-orang yang dikasihiNya..Ameen.




Selamat membaca..


Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Hasyr Ayat 23:




Dialah Allah, tidak ada ilaah(sesembahan) yang layak kecuali Dia, Maha Rajadiraja, yang Maha Suci, Maha Sejahtera, Maha Mengaruniai rasa aman, Maha Memelihara, Maha Perkasa, Maha Kuasa, Maha Memiliki segala keagungan. Maha Suci Allah dari segala yang mereka persekutukan.





Didalam ayat ini, As-Salaam (Maha Sejahtera) adalah satu dari Nama-nama Agung Allah SWT. Kini, Kita akan mencoba untuk memahami arti, keutamaan dan penggunaan kata Salam.





Sebelum terbitnya fajar Islam, orang Arab biasa menggunakan ungkapan-ungkapan yang lain, seperti Hayakallah yang artinya semoga Allah menjagamu tetap hidup, kemudian Islam memperkenalkan ungkapan Assalamu ‘alaikum. Artinya, semoga kamu terselamatkan dari segala duka, kesulitan dan nestapa. Ibnu Al-Arabi didalam kitabnya Al-Ahkamul Qur’an mengatakan bahwa Salam adalah salah satu ciri-ciri Allah SWT dan berarti Semoga Allah menjadi Pelindungmu.





Ungkapan Islami ini lebih berbobot dibandingkan dengan ungkapan-ungkapan kasih-sayang yang digunakan oleh bangsa-bangsa lain. Hal ini dapat dijelaskan dengan alasan-alasan berikut ini.





1. Salam bukan sekedar ungkapan kasih-sayang, tetapi memberikan juga alasan dan logika kasih-sayang yang di wujudkan dalam bentuk doa pengharapan agar anda selamat dari segala macam duka-derita. Tidak seperti kebiasaan orang Arab yang mendoakan untuk tetap hidup, tetapi Salam mendoakan agar hidup dengan penuh kebaikan.





2. Salam mengingatkan kita bahwa kita semua bergantung kepada Allah SWT. Tak satupun makhluk yang bisa mencelakai atau memberikan manfaat kepada siapapun juga tanpa perkenan Allah SWT.





3. Perhatikanlah bahwa ketika seseorang mengatakan kepada anda, “Aku berdoa semoga kamu sejahtera.” Maka ia menyatakan dan berjanji bahwa anda aman dari tangan (perlakuan)nya, lidah (lisan)nya, dan ia akan menghormati hak hidup, kehormatan, dan harga-diri anda.





Ibnu Al-Arabi didalam Ahkamul Qur’an mengatakan:




Tahukah kamu arti Salam? Orang yang mengucapkan Salam itu memberikan pernyataan bahwa ‘kamu tidak terancam dan aman sepenuhnya dari diriku.’




Kesimpulannya, bahwa Salam berarti, (i) Mengingat (dzikr) Allah SWT, (ii) Pengingat diri, (iii) Ungkapan kasih sayang antar sesama Muslim, (iv) Doa yang istimewa, dan (v) Pernyataan atau pemberitahuan bahwa ‘anda aman dari bahaya tangan dan lidahku’




Sebuah Hadits merangkumnya dengan indah:



Muslim sejati adalah bahwa dia tidak membahayakan setiap Muslim yang lain dengan lidahnya dan tangannya





Jika kita memahami hadits ini saja, sudahlah cukup untuk memperbaiki semua umat Muslim. Karena itu Rasulullah Muhammad SAW sangat menekankan penyebaran pengucapan Salam antar sesama Muslim dan beliau menyebutnya sebagai perbuatan baik yang paling utama diantara perbuatan-perbuatan baik yang anda kerjakan.




Ada beberapa Sabda Rasulullah, SAW yang menjelaskan pentingnya ucapan salam antar seluruh Muslim.



Diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Kamu tidak dapat memasuki Surga kecuali bila kamu beriman. Imanmu belumlah lengkap sehingga kamu berkasih-sayang satu sama lain. Maukah kuberitahukan kepadamu sesuatu yang jika kamu kerjakan, kamu akan menanamkan dan memperkuat kasih-sayang diantara kamu sekalian? Tebarkanlah ucapan salam satu sama lain, baik kepada yang kamu kenal maupun yang belum kamu kenal.” (Muslim)





Abdullah bin Amr RA mengisahkan bahwa seseorang bertanya kepada Rasulullah SAW, “Apakah amalan terbaik dalam Islam?” Rasulullah SAW menjawab: Berilah makan orang-orang dan tebarkanlah ucapan salam satu sama lain, baik kamu saling mengenal ataupun tidak.” (Sahihain)





Abu Umammah RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:”Orang yang lebih dekat kepada Allah SWT adalah yang lebih dahulu memberi Salam.” (Musnad Ahmad, Abu Dawud, dan At Tirmidzi)





Abdullah bin Mas’ud RA meriwayatkan Bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Salam adalah salah satu Asma Allah SWT yang telah Allah turunkan ke bumi, maka tebarkanlah salam. Ketika seseorang memberi salam kepada yang lain, derajatnya ditinggikan dihadapan Allah. Jika jama’ah suatu majlis tidak menjawab ucapan salamnya maka makhluk yang lebih baik dari merekalah (yakni para malaikat) yang menjawab ucapan salam.” (Musnad Al Bazar, Al Mu’jam Al Kabir oleh At Tabrani)




Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Orang kikir yang sebenar-benarnya kikir ialah orang yang kikir dalam menyebarkan Salam.”




Allah SWT berfirman didalam Al-Qur’an Surat An-Nisa Ayat 86:



Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan maka balaslah dengan penghormatan yang lebih baik, atau balaslah dengan yang serupa. Sesungguhnya Allah akan memperhitungkan setiap yang kamu kerjakan.





Demikianlah Allah SWT memerintahkan agar seseorang membalas dengan ucapan yang setara atau yang lebih baik. Hal ini telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hathim. Suatu hari ketika Rasulullah SAW sedang duduk bersama para sahabatnya, seseorang datang dan mengucapkan, “Assalaamu’alaikum.” Maka Rasulullah SAW pun membalas dengan ucapan “Wa’alaikum salaam wa rahmah” Orang kedua datang dengan mengucapkan “Assalaamu’alikum wa rahmatullah” Maka Rasulullah membalas dengan, “Wa’alaikum salaam wa rahmatullah wabarakatuh” . Ketika orang ketiga datang dan mengucapkan “Assalaamu’alikum wa rahmatullah wabarakatuhu.” Rasulullah SAW menjawab: ”Wa’alaika”.




Orang yang ketiga pun terperanjat dan bertanya, namun tetap dengan kerendah-hatian, “Wahai Rasulullah, ketika mereka mengucapkan Salam yang ringkas kepadamu, Engkau membalas dengan Salam yang lebih baik kalimatnya. Sedangkan aku memberi Salam yang lengkap kepadamu, aku terkejut Engkau membalasku dengan sangat singkat hanya dengan wa’alaika.” Rasulullah SAW menjawab, “Engkau sama sekali tidak menyisakan ruang bagiku untuk yang lebih baik. Karena itulah aku membalasmu dengan ucapan yang sama sebagaimana yang di jabarkan Allah didalam Al-Qur’an.”





Dengan demikian kita bisa mengambil kesimpulan bahwa, membalas Salam dengan tiga frasa (anak kalimat) itu hukumnya Sunnah, yaitu cara yang dilakukan Nabi Muhammad SAW. Kebijaksanaan membatasi Salam dengan tiga frasa ini karena Salam dimaksudkan sebagai komunikasi ringkas bukannya pembicaraan panjang.





Didalam ayat ini Allah SWT menggunakan kalimat obyektif tanpa menunjuk subyeknya. Dengan demikian Al-Qur’an mengajarkan etika membalas penghormatan. Disini secara tidak langsung kita diperintah untuk saling memberi salam. Tidak adanya subyek menunjukkan bahwa hal saling memberi salam adalah kebiasaan normal dan wajar yang selalu dilakukan oleh orang-orang beriman. Tentu saja yang mengawali mengucapkan salamlah yang lebih dekat kepada Allah SWT sebagaimana sudah dijelaskan diatas.




Hasan Basri menyimpulkan bahwa:




“ Mengawali mengucapkan salam sifatnya adalah sukarela, sedangkan membalasnya adalah kewajiban”
Disebutkan didalam Muwattha’ Imam Malik, diriwayatkan oleh Tufail bin Ubai bin Ka’ab bahwa, Abdullah bin Umar RA biasa pergi ke pasar hanya untuk memberi salam kepada orang-orang disana tanpa ada keperluan membeli atau menjual apapun. Ia benar-benar memahami arti penting mengawali mengucapkan salam.




Pada bagian kalimat terakhir Surat An-Nisa ayat 86, Allah SWT berfirman:



… Sesungguhnya Allah akan memperhitungkan setiap yang kamu kerjakan.
Disini, mendahului memberi salam dan membalasnya juga termasuk yang diperhitungkan. Maka kita hendaknya menyukai mendahului memberi salam. Sama halnya kita harus membalas salam demi menyenangkan Allah SWT dan menyuburkan kasih-sayang diantara kita semua.





Rasulullah SAW selanjutnya memberikan arahan memberi salam bahwa:
• Orang yang berkendaraan harus memberi salam kepada pejalan-kaki.
• Orang yang berjalan kaki memberi salam kepada yang duduk.
• Kelompok yang lebih sedikit memberi salam kepada kelompok yang lebih banyak jumlahnya.
• Yang meninggalkan tempat memberi salam kepada yang tinggal.
• Ketika pergi meninggalkan atau pulang ke rumah, ucapkanlah salam meski tak seorangpun ada di rumah (malaikat yang akan menjawab).
• Jika bertemu berulang-ulang maka ucapkan salam setiapkali bertemu.




Pengecualian kewajiban menjawab salam:
• Ketika sedang sholat. Membalas ucapan salam ketika sholat membatalkan sholatnya.
• Khatib, orang yang sedang membaca Al-Qur’an, atau seseorang yang sedang mengumandangkan Adzan atau Iqamah, atau sedang mengajarkan kitab-kitab Islam.
• Ketika sedang buang air atau berada di kamar mandi.




Selanjutnya, Allah SWT menerangkan keutamaan salam didalam surat Al-An’aam ayat 54:



Jika orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami (Al-Qur’an) datang kepadamu, ucapkanlah “Salaamun’alaikum (selamat-sejahtera bagimu)”, Tuhanmu telah menetapkan bagi diri-Nya kasih-sayang. (Yaitu) Bahwa barangsiapa berbuat kejahatan karena kejahilannya (tidak tahu/bodoh) kemudian ia bertaubat setelah itu dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.





Di ayat ini Allah SWT memerintah Nabi Muhammad SAW sehubungan dengan orang-orang beriman yang miskin, yang hampir semuanya menumpang tinggal di tempat para sahabat. Walaupun orang-orang kafir yang kaya meminta agar Rasulullah SAW mengusir para dhuafa’ itu supaya orang-orang kaya itu bisa bersama Rasulullah, Allah SWT memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk menyambut para dhuafa’ Muslim itu dengan ‘Assalamu ‘alaikum’ pada sa’at kedatangan mereka. Hal ini mengandung dua arti: Pertama, menyampaikan penghormatan dari Allah SWT kepada mereka. Ini adalah kehormatan dan penghargaan yang tinggi bagi Muslim yang miskin dan tulus hati. Perlakuan ini menguatkan hati dan menambah semangat mereka. Arti ke-dua, menyampaikan sambutan yang baik yang pantas mereka terima, atas ijin Allah SWT, dengan nyaman, damai dan tenang, meskipun jika mereka membuat beberapa kesalahan.





Semoga Allah SWT menganugerahi kita kesanggupan untuk melaksanakan pengucapan salam dengan semangat islami yang lurus didalam hidup kita sehari-hari dan dengan melaksanakannya menumbuhkan kasih-sayang dan persatuan diantara kita. Amiin.





Author by Imtiaz Ahmad M. Sc., M. Phil. (London) Translated by Ir. Gusti Noor Barliandjaja and Muhammad Arifin M.A. (Madinah)









0 comments:

Post a Comment

Apa komen anda...?